escape

October 6, 2009

Ganyang Malaysia!!

Filed under: Kritik — Tags: — dewa landung @ 7:54 PM
fotografer: Herry Winarno (detik)

fotografer: Herry Winarno (detik)

“Seandainya Soekarno masih hidup itu Malaysia sudah mampus kita ganyang..!”

“Gimana sih, kebanyakan mikir.. apa perlu nich anak pelabuhan Periok turun tangan? Kita kirim tuh kapal kargo lengkap dengan awaknya buat ditabrak2in.. Malaysia kalo di diemin terus, tambah menjadi-jadi!”

“Udah…. perang! Tapi yang perang bapak2 TNI aja, kita kan pegawai bank hehehe”

Begitulah kira2 obrolan pagi hari saat kami sarapan di warung sunda milik ce2, sambil menyantap nasi kuning dan teh hangat manis. Entah apa yang terjadi dengan anak2 kantor setelah mendengar kasus Ambalat semangat nasionalismenya meningkat drastis. Ibarat perusahaan rasio pertumbuhan nasionalisme meningkat pada angka yang tidak wajar. Sore hari menjelang malam semangat itu kembali berkobar bak api disiram pertamax, setelah kami melihat liputan di TV beberapa komentar mulai muncul…

“haaaahhh… SBY kebanyakan diplomatis… perang!”

“Dimana ya ada dukun yang bisa hidupin Soekarno lagi??”

“Kalo di film2 sudah di bom tuh kapal… enak aja mondar mandir di daerah orang!”

Pembicaraan diatas ada benarnya juga, bagaimana tidak, sudah berkali2 Malaysia melanggar perbatasan Indonesia dan kita hanya diam tidak berbuat apa2. Harga diri sebagai bangsa benar2 diinjak2.

Tapi keinginan untuk perang tiba2 padam, sepulangnya dari kantor saya menonton klip berjudul “One” sebuah single lawas milik Metallica (baru aja copy dari hardisk eksternalnya Mas Teguh). Klip ini menceritakan tentang seorang anak muda yang pergi berperang. Akibat ranjau kakinya putus, tangan udah nggak ada, mata buta mungkin kemasukan serpihan ranjau. Satu-satunya yang dia inginkan adalah kematian, namun sekelompok dokter selalu berusaha menyelamatkannya. Tidak ada yang memahami rasa sakit yang ia alami. Beberapa kali dia memohon untuk mati..

What he said? “please kill me..” over and over again

“inside me I’m screaming but nobody pay any attention”

“If I have arm I can kill myself”

“If I have leg I can run away”

“If I have voice I can talk maybe some kind of company for myself”

“SOS… help me…”

Saya membayangkan bagaimana bila hal itu terjadi pada saya, saudara, teman, atau orang2 yang saya kenal. Begitu mudahnya kita bicara perang. Jika hidung anda putus dan  kaki anda terpotong-potong apa anda masih bisa berteriak lantang? Wong kena demam berdarah aja udah bilang tobat! Saat pasangan anda tergeletak tak berdaya dan anda harus merawatnya seumur hidup apa masih bicara harga diri? Saat anak2 tak berdosa mati. Saat cewek2 cakep jadi jelek karena cacat. Saat bangunan2 hancur. Saat tanaman kesayangan anda hangus. Saat nyanyian yang anda dengar hanya nyanyian tangis. Ga ada internet. Ga ada facebook. Ga ada i-phone?

Mungkin pidato presiden ada benarnya juga, perang adalah pilihan terakhir. Bila perlu perang dihilangkan saja dari pilihan…

Lalu bagaimana dengan harga diri?

Teringat saat menghadiri seminar Gde Prama. Karena tidak setuju dengan beberapa pandangan beliau tentang pembalasan dendam saya bertanya dengan nada yang agak tinggi “Apa bedanya orang dengan pemahaman spiritual dengan orang yang tidak punya harga diri Pak Gde?!” sambil tersenyum beliau menjawab “Seseorang yg mendalami spiritualitas, bisa dikatakan tidak punya harga diri” wow orang ini sudah gila pikir saya. Saya tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Tapi jika dicermati lebih dalam kata2 beliau sepertinya ada benarnya.

Kemarahan akan menghilangkan kebijaksanaan. Saat kebijakan hilang habislah sudah. Saat masih dibangku Sekolah Dasar saya pernah diajarkan bahwa manusia hanya memiliki 6 (enam) musuh dan semua musuh itu hanya ada di dalam diri kita bukan diluar sana, salah satunya kemarahan. Bahkan untuk musuh2 inipun kita tidak harus membunuhnya, hanya dikendalikan.. cukup dikendalikan.. karena semua ini adalah ciptaan Tuhan dan Tuhan itu sendiri.

“Ia tidak memukul & membuat orang lain dipukul,

Ia tidak merampas & membuat orang lain dirampas,

Akan tetapi;

Ia membagi cinta kasih ke semua mahluk hidup,

Dengan demikian,

Ia tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun”.

(Itivuttaka. 22)

Saat keenam musuh kita memanggil cinta kasih adalah jawabannya. Jadi masihkan kita membutuhkan perang???

What is democracy?

Its something to do with young man killing each other

(Metallica)

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: