escape

October 6, 2009

Manajemen Laba dan Degradasi Moral Para Akuntan

Filed under: Kritik, LEARN — Tags: , , — dewa landung @ 8:19 PM

Masih ingat pelajaran akuntansi saat SMA atau kuliah bahwa posisi dan kinerja keuangan suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan? Apa jadinya bila informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan tidak mencerminkan atau menyimpang dari keadaan yang sebenarnya? Atau pernahkah anda mengamati sebuah perusahaan dengan pergerakan laba yang terlampau indah? Seolah-olah bumi terbelah dua pun perusahaan dapat menunjukkan performance yang baik-baik saja.

Ya.. manajemen laba merupakan salah satu kambing hitam favorite saya untuk menjawab hal ini. Apaan sehhh manajemen laba?

Manajemen adalah istilah keren orang2 yang ingin terlihat berpendidikan untuk kegiatan yg berhubungan dengan MENGATUR, pokoknya yang berhubungan dgn atur-mengatur ya itulah manajemen. Jadi manajemen laba adalah aktivitas “mengatur-atur” pos-pos tertentu pada laporan keuangan sehingga laba tersaji pada posisi yang diinginkan untuk memenuhi kepentingan tertentu. Kepentingan atas posisi laba ini beragam, agar performance perusahaan terlihat baik, mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan, agar perusahaan keliatan melarat (males aja bayar utang ke kreditur atau orang pajak) atau akuntannya lagi iseng biar keliatan sibuk –ini biasanya dilakukan oleh akuntan pd perusahaan dgn system yang udah berjalan mapan jadi akuntannya bengong aja ga ada kerjaan. Garis besarnya pola manajemen laba dapat berupa income increasing (penaikan laba), income decreasing (penurunan laba), dan income smoothing (perataan laba)

Manajemen laba biasanya dilakukan dengan memanfaatkan celah-celah dalam standar akuntansi. Selain kebebasan dalam memilih dan mengganti metode akuntansi, prinsip akuntasi juga memberikan kebebasan pemakainya untuk menentukan nilai estimasi yang digunakannya. Onderdil yang dipretelin oleh para akuntan ini bisa komponen aktiva lancar, aktiva tetap, atau hutang lancar. Salah satu contoh yang paling sederhana misalnya komponen aktiva yaitu Piutang. Tau sendirilah piutang itu ga ada wujud fisiknya dan kita bebas menentukan dasar perhitungan estimasi prosentase biaya kerugian piutangnya (:biaya yg dibuat dan atau dibuat-buat atas kemungkinan piutang itu ga bisa ditagih). Jika ingin laba terlihat lebih besar dari sebenarnya tingal turunin prosentese biaya kerugiannya begitu juga sebaliknya. Memang benar setiap perubahan atas estimasi yang kita gunakan dalam laporan harus diungkapkan dalam catatan kaki laporan keuangan (footnotes of financial statement) –standar akuntansi sih ngomongnya gitu- tapi coba inget2 semenjak jamannya Empu Gandring kalo baca laporan keuangan pernah perhatiin footnotesnya ga?

Begitulah kira2 manajemen laba untuk sekedar menambah pengetahuan kita biar ga kalah omong ama anak nongkrong yg laen. Saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai teknik2 manajemen laba –banyak yang lebih “fasih”, namun yang ingin saya sampaikan bahwa praktek2 seperti ini akan merugikan banyak pihak. Perlu dipikirkan bersama bagaimana agar perusahaan yang telah terlanjur melakukan manajemen laba dapat menyajikan laporannya secara normal lagi, karena para pengamat mengatakan sekali melakukan manajemen laba, seterusnya perusahaan harus melanjutkannya –kecuali kl mau melakukan pengakuan dosa. Fenomena manajemen laba juga menunjukkan kpd kita terjadinya degradasi moral para akuntan (meskipun yang nyuruh manajernya – liat lagi definisi manajemen diatas). Laporan keuangan sebagai piagam hasil kerja keras dan kerja lembur para akuntan tidak lagi mampu memberikan informasi yang ideal bagi pengambil keputusan. Pelajaran2 yang kita terima saat masih sekolah yang menunjukkan bagaimana terhormatnya ilmu akuntansi sepertinya hanya hiasan saja… tapi kembali lagi itu PILIHAN masing2.. semoga beruntung dengan pilihan2 kita..

5 Comments

  1. nice article! minta izin ngutip yah!

    Comment by pradhika — November 20, 2009 @ 5:50 AM

  2. izin ngutip ya mas, buat tambah referensi🙂

    Comment by arie — June 17, 2010 @ 6:46 AM

  3. artikelnya aq suka banget…
    kebetulan aq juga lagi mau bikin skripsi ni soal manajemen laba n tanggapan auditor mengenai praktek ini….
    pengen berbagi n konsultasi lebih banyak tentang masalah ini….
    thank’s…

    Comment by erin — September 22, 2010 @ 7:44 AM

  4. Siiippp, tengkyu

    Comment by dewa landung — February 26, 2013 @ 2:01 AM


RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: