escape

October 17, 2009

Prawacana Arun Gandhi dalam Buku “God Without Religion”

Pertanyaan “Apakah Tuhan itu?” telah memusingkan umat manusia selama berabad-abad dan akan terus menantang pemahaman logis selama kita hidup dengan konsep bahwa di atas sana ada suatu surga tempat Tuhan duduk menghakimi umat manusia dan menghukum orang yang telah bertindak tidak benar. Pemikir-pemikir terkemuka sepanjang sejarah telah berusaha menemukan jawaban logis terhadap pertanyaan yang sulit dan tidak menyenangkan ini, dengan hasil hanya sedikit. Pada sisi lain, Yang Mulia Gautama, sang Buddha, melakukan tapasya (kata Sanskerta untuk asketisisme) di bawah sebatang pohon bodhi dan, seperti beberapa orang lainnya, menemukan bahwa Tuhan ada di dalam hati setiap insan dalam bentuk cinta kasih, bela rasa, pengertian, dan sifat-sifat positif lainnya yang mampu dimiliki manusia tetapi sering kali ditekan olehnya. Tampaknya, daripada kita mencoba menegaskan logika yang ketat atau menempatkan suatu citra yang solid pada konsep kita tentang Tuhan, kita harus mengikuti teladan mereka dan mengerahkan energy yang lebih besar untuk secara intuitif memahami makna Tuhan.

Buku yang ditulis Sankara Saranam ini, God Without Religion: Mempertanyakan Kebenaran yang Telah Diterima Selama Berabad-Abad, menolong kita melakukan usaha intuitif itu. Buku ini menawarkan usaha yang menyegarkan untuk memberi umat manusia suatu peta perjalanan spiritual yang dimodernisasi untuk digunakan dalam pencarian abadi kita memahami Tuhan.

Karena Identitas Tuhan tidak dapat dipahami (mungkin rahasia yang paling baik terjaga dalam dunia ini) dan filsafat yang mengitari kuasa ini sangat tidak dapat dimengerti, pemimpin keagamaan dari berbagai kepercayaan mendefinisikan Tuhan dalam cara-cara yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang yang mereka dapat jawab. Penjelasan termudah dan paling diterima adalah dengan melihat Tuhan dalam rupa orang-orang yang dipandang sebagai utusan Tuhan – di antara orang Yahudi, Musa dan Nabi-nabi Ibrani; di antara orang Kristen, Yesus; di antara Muslim, Muhammad; diantara orang Hindu, Krisna; dan diantara Buddhis, Gautama.

Gagasan umum yang mempersatukan semua kehidupan banyak utusan Tuhan adalah cinta, bela rasa, pengertian, komitmen, dan hormat serta penghargaan kepada semua makhluk hidup. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa dengan memperlihatkan sifat-sifat ini mereka menunjukkan kepada umat lainnya cara kita seharusnya hidup sebagaimana diharapkan sang Pencipta kita. Kendatipun saya tidak mengartikan sifat-sifat orang kudus kepada kakek saya, Mohandas Kramchand Gandhi, dalam hal ini apa yang ia katakan kurang lebih seminggu sebelum ia dibunuh pada 30 Januari 1948 penting untuk dikemukakan: “Mereka (rakyat India) akan mengikuti saya dalam kehidupan, menyembah saya dalam kematian, tetapi tidak menjadikan tujuan saya sebagai tujuan mereka.” Kata-kata profetis ini bisa jadi juga dikatakan Musa, Yesus, Muhammad, Krisna, atau sang Buddha –orang-orang yang kisah-kisah dan pelajaran-pelajaran kehidupan mereka disimpan dan dipelihara dalam Kitab Suci yang kita umumnya baca tapi dengan sedikit kehendak untuk menjadikan semuanya itu suatu bagian dari kehidupan kita. Dengan menyingkirkan semua perantara Ilahi ini, buku Sankara Saranam mencoba memberi kita suatu perspektif tentang Tuhan yang lebih langsung dan lebih dekat. Seperti Sankara, saya ragu untuk mengatakan bahwa perspektif ini mutlak benar, karena sebagai makhluk yang sungguh fana, lepas dari kesarjanaan, pengalaman, pengetahuan, pelatihan, atau visi kita yang luas, kita tidak dapat memahami kedalaman spiritualitas dalam tingkatan yang cukup untuk kita menganggap bahwa kita telah berada di jalan yang benar.

Saya teringat pada hikmat yang ditanamkan kakek saya ke dalam keluarga saya ketika saya hidup bersamanya sebagai seorang remaja. Ia berkata bahwa manusia hanya dapat berharap mengerti Tuhan dan bercita-cita mencapai “keselamatan”, yang ia definisikan sebagai menajalani kehidupan pelayanan, pengorbanan, dan kepuasan. Ia percaya bahwa agama terbesar adalah agama yang menjamin kita dapat menghapus air mata dari setiap mata dan membawa pengharapan dan keutuhan dan kebenaran kepada setiap kehidupan. Katanya, jika dikerjakan dengan kerendahan hati yang dalam, pelayanan itu akan memberi kita martabat dan keagungan untuk mengakui dan menerima banyak jalan untuk kita melihat Tuhan dalam kemanusiaan, seturut dengan panggilan kita.

Saya yakin bahwa akar masalah spiritual yang sedang kita hadapi dewasa ini adalah persaingan kuat yang kita telah masukkan ke dalam agama. Kita semua percaya bahwa agama kitalah agama terbaik dan bahwa kita wajib menyelamatkan dunia dengan mentobatkan setiap orang lain ke dalam cara kita beribadah.

Saya teringat pada suatu peristiwa yang sangat menyakitkan dan mendukakan hati yang terjadi beberapa tahun lalu ketika saya diundang untuk menjelaskan pandangan hidup Hindu kepada mahasiswa-mahasiswa Kristen yang sedang belajar ilmu perbandingan agama. Ketika itu rohaniawan Islam dan Yahudi juga diundang. Setelah saya memberikan kuliah, salah seorang rohaniawan itu membuka presentasinya dengan kata-kata yang jelas ditujukan kepada saya; orang ini mengatakan: “Kami orang Kristen, Muslim, dan Yahudi, dalam sejumlah hal memiliki kesamaan. Kami bukan hanya memiliki suatu sumber bersama, tetapi kami juga adalah penganut suatu ‘agama kitab’, tidak seperti Anda yang adalah orang kafir.” Implikasinya jelas. Ia percaya bahwa firman Tuhan dalam agama Kristen, Islam dan Yahudi datang dalam bentuk sebuah kitab sementara Kitab Suci agama Hindu diturunalihkan secara lisan dan dengan demikian berkedudukan lebih rendah. Ia menyimpulkan bahwa orang Hindu percaya kepada lima puluh ribu Tuhan sementara para penganut keluarga agama Barat percaya pada hanya satu Tuhan.

Saya menjelaskan, superioritas yang dipandang dimiliki agama-agama yang didasarkan pada suatu Kitab Suci adalah suatu miskonsepsi umum di Barat. Malah sebetulnya seorang filsuf pada zaman dulu pernah mengatakan, cara termudah untuk membunuh suatu filsafat adalah dengan menulis buku, sebab ketika buku ditulis filsafat ini menjadi sebuah dogma dan tidak lagi menjadi suatu filsafat yang hidup dan memberikan semangat. Saya menambahkan kalau orang Hindu percaya pada lima puluh ribu atau lebih Tuhan, ini tidaklah berarti bahwa orang Hindu percaya pada sangat banyak Tuhan (atau, menurut pandangan beberapa orang, pada Tuhan-Tuhan yang banyaknya sama dengan jumlah manusia), melainkan bahwa ada banyak gambar tentang Tuhan yang mungkin dapat dibuat.

Pengakuan bahwa tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh mengetahui Tuhan yang sebenarnya yang ada di balik gambar-gambar itu membawa kita kepada suatu pemahaman bahwa manusia hanya dapat mengejar dan mencari sang kebenaran, dan ia tidak bisa “menguasai” kebenaran itu sebagaimana banyak orang fanatic beragama mengklaimnya demikian. Mencari dan mengejar kebenaran menyiratkan kerendahan hati, penerimaan, keterbukaan, dan penghargaan, sementara menguasai kebenaran menyatakan keangkuhan, pikiran yang tertutup, dan tidak adanya penghargaan. Disinilah letak masalahnya: jika kita kukuh bersaing untuk menguasai kebenaran ketimbang bekerja sama dalam kesatuan untuk mencari dan mengejarnya, kita akan menghadapi kedukaan yang tak terhitung banyaknya –dan lebih buruk lagi, kita akan menghadapi kekerasan.

Ketika kakek saya ditanya apa yang ia pikirkan mengenai makna Tuhan, ia menjawab: “Ada suatu kuasa misterius yang tidak bisa didefinisikan yang meresapi segala sesuatu. Saya merasakannya, meskipun saya tidak melihatnya. Kuasa yang tidak kasat mata inilah yang membuat dirinya dirasakan namun menantang semua bukti, sebab kuasa ini sangat berbeda dari semua yang saya serap melalui indra saya. Kuasa ini mentransenden semua indra. Tetapi dimungkinkan bagi kita untuk menalar kebenaran Tuhan sampai suatu batas tertentu.”

“Saya samar-samar menangkap bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar saya senantiasa berubah, senantiasa sekarat dan mati, ada sesuatu yang mendasari semuanya yang berubah: suatu kuasa hidupyang tidak bisa berubah, yang menyatukan segala sesuatunya, yang mencipta, melenyapkan, dan mencipta kembali. Kuasa atau ruh yang menerangi itu Tuhan… Sebab saya dapat melihat bahwa di tengah kematian, kehidupan tetap berlanjut; di tengah ketidakbenaran, kebenaran bertahan; di tengah kegelapan, terang tetap bercahaya. Karena itu saya menyimpulkan bahwa Tuhan adalah kehidupan, kebenaran, dan terang”

Kadang kala, kakek saya menyebut Tuhan sebagai cinta kasih, atau sebagai kebajikan utama, atau sifat-sifat lain yang memperlihatkan kepercayaanya bahwa Tuhan hidup di dalam kita dan juga di luar kita. Ia juga secara tidak langsung menyatakan bahwa kita memiliki suatu hotline dengan Tuhan, suatu hubungan segera dan langsung yang memungkinkan kita memanggil Tuhan ketika diperlukan. Dalam pencarian abadi manusia untuk mendapat suatu jawaban konkret mengenai makna Tuhan yang misterius dan tidak dapat didefinisi, buku God Without Religion menambah suatu dimensi kuno –yakni gagasan tentang diri- dalam suatu cara yang seluruhnya baru yang saya harapkan akan membawa pembaca beberapa langkah lebih dekat kepada usaha menyingkap seluk beluk misteri Ilahi.

-Arun Gandhi

Rekan pendiri M.K. Gandhi Institute for Nonviolence

Memphis, Tennessee

3 Comments

  1. muantappssss….. ternyata teman saya yang satu ini juga menekuni dunia spiritual ya hehehehe

    Comment by haryoga — October 22, 2009 @ 12:42 PM

    • thank you brother Haryoga ud mampir…

      Comment by dewa landung — October 22, 2009 @ 5:10 PM

  2. Mantap Gung…memang Tuhan ada dalam setiap mahluknya…

    Comment by I Made Ari Putranta — December 14, 2010 @ 8:59 AM


RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: