escape

January 31, 2010

Asuransi dan Sahabat Dekatnya Asumsi

Filed under: LEARN — Tags: , — dewa landung @ 4:00 AM

Baru kali ini saya mengamati financial report suatu perusahaan asuransi (selanjutnya disebut Asuransi), dan GILA!! Kalau saja bukan karena tugas, saya tidak akan berani memberikan pendapat yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk jenis perusahaan yang satu ini.

Saya terkejut melihat perlakuan-perlakuan yang terdapat di dalamnya. Yang menakutkan adalah perusahaan asuransi mengakui semua pemasukannya saat itu sebagai pendapatan, sedangkan klaim bisa terjadi kapan saja pada masa yang akan datang. Kemudian untuk mengantisipasi hal tersebut Asuransi membentuk suatu cadangan yang kembali lagi sarat dengan asumsi. Di seberang sana kalau tidak salah selisih lebih antara cadangan periode sebelumnya dan cadangan periode bersangkutan diakui kembali sebagai pendapatan. Wah..wah… bulet dan muter-muter banget!

Belum lagi reasuransi yang menurut saya kurang tepat, atau jangan-jangan saya yang kurang paham. Asuransi melakukan reasuransi atau memindahkan risikonya ke perusahaan asuransi lainnya. Dari perusahaan asuransi ke perusahaan asuransi, dengan kata lain mengungsikan korban banjir ke daerah yang juga rawan bajir. Perbankan bagi saya lebih prudent dibanding Asuransi, mereka melempar risiko kreditnya ke perusahaan Asuransi yang memiliki garis bisnis yang berbeda dengan bank.

Bagaimana cara mengetahui kekuatan sebuah perusahaan Asuransi?

Jujur saja saya juga masih belajar dan mencari-cari teknik analis yang tepat untuk mengetahui seberapa besar perusahaan asuransi mampu menahan risiko dari premi yang dia akui sebagai pendapatan.

Regulator sendiri (Kementrian Keuangan) telah mengatur berapa angka yang dapat dijadikan batasan bagi Asuransi seperti RBC, batasan premi netto, dan sebagainya. Risk Based Capital (RBC) merupakan ukuran tingkat kesehatan Asuransi yang dihitung dari angka solvabilitas yang dibandingkan dengan batas tingkat solvabilitas minimum. Kemudian persentase kelebihan/kekurangan inilah yang disebut dengan RBC.  Risk Based Capital (RBC) yang dianalogikan sama dengan CAR bagi perbankan ditetapkan minimal 150%. Selain RBC, batasan premi netto, permodalan dan rasio-rasio keuangan lain juga dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menganalisa.

Alternatif lainnya adalah dengan melakukan pendekatan prediktif dengan dasar data historis, kecenderungan Asuransi itu sendiri, dan perasuransian secara general. Dengan menambahkan data-data keuangan lainnya yang berpengaruh terhadap kondisi Asuransi kita bisa melakukan estimasi premi, biaya klaim, dll.

Alternatif lainnya lagi yaitu dengan pendekatan “alternatif”. Kita pergi saja ke dukun , trus ditanyaken apakah perusahaan asuransi ini kuat apa nggak? Kalo nggak, apa si mbah punya obat kuatnya? *keknya udah putus asa nich.

Ehem…kembali lagi…

Namun diantara itu semua, analisis yang paling tepat bagi saya adalah dengan membentuk suatu scoring system yang menampung semua aspek yang berpengaruh terhadap Asuransi. Didalamnya kita masukkan angka-angka yang telah ditetapkan regulator, kondisi perekonomian, kondisi perasuransian secara general, angka keuangan Asuransi itu sendiri, kemudian membobotkannya agar menghasilkan suatu score tertentu. Score ini nantinya dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Yup, untuk sementara, ini yang paling keren. Mudah2an nasib mempertemukan saya dengan orang yang bisa mengajarkan tentang perasuransian. Nasib…Nasib…kamu lagi dimana sich Sib??

1 Comment

  1. hmm., nda ngerti..😀

    Comment by yunaelis — February 20, 2010 @ 1:19 AM


RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: