escape

October 16, 2012

Kenapa Saya Tidak Memakan Daging Sapi

“Kenapa kamu tidak makan daging sapi?” Pertanyaaan yang baru-baru ini masuk dalam daftar  Frequently Asked Question. Enggan menjawabnya karena bila dijawab dengan singkat pasti akan mislead sebaliknya bila dijawab panjang akan makan waktu dan saya sendiri malas memberi penjelasan panjang lebar. Malas dibilang menggurui, malas dibilang terlalu teoritis, akhirnya saya abaikan dengan jawaban “…memang -dari dulu sudah- begitu” dengan asumsi orang-orang  memahami konsep “nak mula keto”nya para tetua Bali.

Sayangnya saya sering kurang beruntung, seorang sahabat Bali pernah menjawab bahwa itu cuma dilakukan oleh orang-orang fanatik saja! Seorang family dengan enteng berkata, “Terlalu banyak aturan, ini ga boleh, itu ga boleh, kalo saya makan-makan aja semua. Semua ini kan diciptakan untuk kita. Makan aja!” sambil menyebutkan bahwa orang tuanya akan sebel bila melihat orang setipe saya alias berkomitmen tidak makan makanan tertentu.

Saya terhentak dan sadar, ternyata apa yang kita lakukan atau yakini kadang menyebalkan bagi orang lain, meskipun saya tidak merepotkan siapa-siapa. . Saya tidak menganggap makan daging sapi itu menjijikkan atau dengan muka mencemooh mengatakan, “daging sapi? Uuuueeekkkk jijik”, yang tentunya akan merusak selera makan para pemakan daging.I never complain if some of them serving food containing beef

Selain cecaran dari sahabat dan family dari Bali, saya juga merasa template jawaban singkat tadi kuranglah adil untuk teman-teman luar Bali yang mungkin benar-benar ingin mengenal dan memahami pilihan makan saya. Sebagai wujud rasa bersalah saya atas perilaku menyebalkan dan tidak adil yang telah saya lakukan, maka saya akan berikan sedikit penjelasan kenapa saya berpantang makan daging sapi:

Lahir di keluarga tradisional Bali

Saya lahir dikeluarga tradisional Bali dimana hidup itu seperti kuliah akuntansi. Lakukan saja dahulu jurnal-jurnal dan teknisnya, pada semester akhir saat akan tamat, baru diajarkan teori akuntansi. Itupun kalo beruntung disemester akhir dosen teori akuntansinya available. Pada awalnya seorang anak/anggota keluarga lebih banyak dinilai dari apa yang telah ia lakukan, bukan dari apa yang telah ia ketahui. Jadi saya TIDAK TAHU kenapa saya tidak makan daging sapi! Larangan ini disampaikan turun temurun, dari ayah saya, mungkin sejak kakek atau buyut saya, entahlah. Yang jelas saya merasa bersalah tiap kali memakan daging sapi – yeah sometimes I’m cheating hehe😛

Catatan: sejak kecil saya memang cendurung tidak suka makan daging.

Era kebebasan memilih

Beranjak dewasa maka datanglah era kebebasan memilih. Orang tua mulai melonggarkan aturan-aturannya dan memberikan kebebasan bagi sang anak yang beranjak dewasa menemukan jalannya sendiri. Pada masa inilah saya mulai banyak membaca, mendengarkan, dan belajar. Belajar masuk dalam komunitas sosial, belajar memahami manusia (termasuk lawan jenis), belajar memahami mahluk lain, hewan, tumbuhan, dan peduli dengan lingkungan. Belajar beberapa filsafat dan beberapa agama. Belajar mengendalikan diri sendiri (yang ini sulit) dan beberapa teknik pengendalian diri.

Saya mulai tau bahwa untuk bisa mengendalikan diri dan melatih fokus salah satunya orang bisa melakukan Brata (pengendalian/pantangan/puasa). Dalam kepercayaan kami (Hindu Bali) ada banyak Brata yang bisa dilakukan seperti pantang makan daging sapi, menjadi vegetarian, pantang berbicara, pantang berbuat zina, tidak tidur, hanya makan nasi tanpa lauk, dsb.

Saya mulai belajar tentang Ahimsa (tidak menyakiti/membunuh), dan betapa Himsa Karma (aktivitas menyakiti dan membunuh) menimbulkan penderitaan bagi mahluk sesuai tingkat kesadarannya baik yang melakukan maupun korbannya. Saya belajar tentang Punarbhawa (reinkarnasi/kelahiran kembali), dimana orang dapat saja terlahir sebagai ayam, atau ayam lahir jadi manusia. Juga Tat Twam Asi yang sederhananya berarti “aku adalah kamu, kamu adalah aku”. Bayangkan *ini bagian horornya* bila pisau tertancap di leher saya, bulu-bulu (rambut) dalam tubuh saya dicabuti (bahkan sebelum saya benar-benar mati), kepala saya dipenggal dijadikan sop kepala manusia, tangan saya digoreng bumbu pedas menjadi hot human wing. Betapa sedihnya perasaan saya sebagai ayam bila manusia yang saya sayangi dan puja karena tiap hari memberi saya makan dan minum, tiba-tiba menangkap dan memotong saya! Mata saya pasti berkaca-kaca saat mereka mulai memegang kaki dan tangan saya kemudian mendekatkan pisau ke leher saya. Terbayangkah sakitnya, apalagi ternyata pisau itu agak tumpul!

Intinya saya tertarik menjadi VEGETARIAN! Namun apa daya badan ini masih kurus, lemah dan menurut pendapat saya masih memerlukan asupan daging (another justification from me). Jadi saya gunakan kebebasan saya untuk memilih, sementara ini saya memilih hanya untuk tidak memakan daging sapi sambil melanjutkan tradisi keluarga, sampai waktunya tiba saya menjadi seorang yang hanya makan tumbuhan (vegetarian). Kapanpun saya ingin memakan daging sapi, saya bebas melakukannya, tapi I keep it in my mind bahwa Brata saya adalah berpantang makan daging sapi, tetaplah berusaha disiplin memenuhinya.

Sekarang saya tetap merasa bersalah tiap memakan daging sapi dan terkadang bila memakan daging lainnya juga. Tapi kali ini bukan karena melanggar anjuran orang tua, namun lebih karena hati saya memanggil bahwa tidak sepantasnya saya melakukan itu.

Semakin jauh melangkah makin mantap keyakinan

Makin lama, makin banyak hal yang memantapkan niat saya untuk berpantang makan daging sapi kemudian menjadi seorang vegetarian.

a.      Isu Lingkungan Hidup

Saya menemukan sebuah fakta yang diungkap FAO (Food and Agricultural Organization of The United Nations) tahun 2006 yang menjelaskan bahwa daging merupakan komoditi penghasil emisi karbondioksida paling tinggi (20%). Ini bahkan melampaui jumlah emisi gabungan dari semua kendaraan di dunia. (sumber: kompas.com).

Ternyata industri ternak telah menghasilkan 9% racun karbondioksida, 65% nitrooksida, dan 37% gas metana (gas rumah kaca dan penyebab pemanasan global). Selain itu, industri ternak juga memerlukan banyak energi untuk mengubah ternak menjadi daging siap konsumsi. Untuk memproduksi 1 kg daging saja misalnya, dihasilkan emisi karbondioksida 36,4 kilo.

Bahan makanan hewani membutuhkan lebih banyak konsumsi energi dalam produksi dan suplainya dibanding makanan nabati. Menurut U.S. Geological Survey, untuk membuat satu tangkup hamburger, misalnya membutuhkan setidaknya 1.300 galon air. Jadi, tidak heran jika produk pangan hewani dan junk food memerlukan lebih banyak energi dibanding dengan mengolah sayuran, buah dan beras.

Sumber lain mengatakan, jika setiap orang bervegetarian maka hingga 90% tanah yang dipakai untuk peternakan hewan bisa diambil-alih untuk wilayah hutan, ruang terbuka untuk kegiatan santai, dll; 20 orang yang bervegetarian dapat hidup dari hasil lahan yang setara dengan satu orang pemakan daging saja Penggembalaan ternak merusak tanah dan meningkatkan pembentukan padang pasir; Sekitar 2,08 tiliun m2 tanah di AS saja telah menderita pengurangan hasil panen sebesar 25-50% sejak penggembalaan yang pertama; bahkan ada 101 alasan untuk menjadi vegetarian.

b.      Dibalik tradisi keluarga dan nasehat Sang Guru Tantra

Banyak mendengarkan dan membaca, tradisi yang turun temurun dijalankan di keluarga mulai sedikit ada titik terang. Salah satunya saya temukan dari blog Ida Bagus Dwijayana yang menyampaikan sebuah nasehat yang sangat menarik dari Ida Danghyang Dwijendra (Abad ke-16) yang tentu saja untuk kemajuan dibidang kerohanian. Didalam Dwijedra Tatwa (ajaran filsafat yang disampaikan Danghyang Dwijendra) disampaikan, “Jangan makan daging sapi sebab ia sebagai ibu yang memberikan susu kepada kita. Jangan makan daging babi rumah dan ayam itik rumah sebab dianggap kotor suka makan najis dan hindari segala yang dianggap kotor”. Yang dimaksud dengan “…hindari segala yang dianggap kotor” adalah makanan yang diperoleh dengan tidak baik termasuk dengan cara keji (dalam hal ini daging). Nasehat ini bisa dijadikan bukti bahwa Beliau adalah seorang yang berpantang makan segala jenis daging (vegetarian yang taat). Nasehat Ida Danghyang Dwijendra disampaikan kepada keturunan Beliau (Brahmana Wangsa) sudah sejak 500 tahun yang lalu namun tidak banyak yang mampu melakukannya mungkin hanya dikalangan Ida Pedanda saja, karena itulah nasehat yang sangat berharga ini tengelam ditelan jaman.

Membaca artikel tersebut, saya menemukan kenapa daging sapi itu tidak dianjurkan dan menyimpulkan bahwa pemuka agama di Bali sejak dulu telah menganjurkan untuk menjadi vegetarian.  Hanya saja ajaran tersebut disampaikan secara turun temurun dan terbatas pada golongan-golongan tertentu saja yang memiliki akses yang lebih mudah ke guru-guru spiritual atau mendalami ilmu spiritual untuk memimpin masyarakat atau kepentingan lainnya. Mungkin dari keturunan Brahmana, Raja-raja, atau para penekun ilmu rohani. Jadi sangat wajar bila tidak semua orang Bali berpantang memakan daging sapi atau menjadi vegetarian.

Meskipun terdapat missing link darimana tradisi ini diturunkan di keluarga saya, namun saya merasa cukup beruntung tradisi kami sejalan dengan apa yang dianjurkan oleh Ida Danghyang Dwijendra seorang guru Tantra yang sangat dihormati di Bali.

Demikian kurang lebih pemaparan mengenai perjalanan Brata saya tidak memakan daging sapi. Sudah saya bilang penjelasannya panjang, toh juga pengetahuan ini menjadi tidak bermanfaat bila tidak dilaksanakan. Kenapa Anda tidak terima saja template standar saya “…memang -dari dulu sudah- begitu!” alias “…. nak mula keto!”

Referensi:

http://nasional.kompas.com/read/2008/10/17/10212551/7.alasan.jadi.vegetarian

http://idabagusdwijayana.blogspot.com/2010/02/apa-sih-yang-menjadi-panutan-kenapa.html

http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=veg_data_ina&wr_id=67&goto_url=&url=

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: