escape

September 28, 2010

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Bebek atau Ayam

Cerita ini saya kutip dari salah satu buku koleksi saya “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”  yang ditulis oleh seorang biksu bernama Ajahn Brahm dalam tradisi petapa hutan Buddhisme Therawada. Enjoy:


Berikut ini adalah cerita kegemaran guru saya, Ajahn Chah dari Thailand timur laut.

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan, ”Kuek! Kuek!”

”Dengar”, kata si istri, ”Itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam”, si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuukk!’, bebek itu ‘kuek! Kuek!’ Itu bebek, Sayang”, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek”, kata si suami.

“Bukan, Sayang…Itu ayam! Aku yakin betul!” tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a…..da….lah… be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!” si suami berkata dengan gusar.

“Tetapi itu ayam!” masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue…bek! Kamu ini… kamu ini…!”

Terdengar lagi suara, ”Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, ”Tetapi itu ayam….”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, teringat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

”Terima kasih, Sayang”, kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

”Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal ”ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, sangat mantap, mutlak, bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah?

Lho siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek?

(Demi menjunjung kesetaraan antarjenis dan menjaga kedamaian hidup sebagai biksu, setiap kali saya menceritakan kisah ini, saya selalu mengubah siapa yang bilang ayam dan siapa yang bilang bebek)

-Ajahn Brahm-

Advertisements

February 20, 2010

About me and who am i going to be

Filed under: Anyone Conversations, Book Review, Self Conversations — Tags: , , , — dewa landung @ 12:50 AM

Bagaimana aku dapat memulainya?

Jadilah terang dunia, dan jangan mengotorinya. Cobalah membangun, jangan membinasakan.

Bawalah umatKu pulang.

Bagaimana caranya?

Dengan teladanmu yang memancar. Kejarlah kesalehan. Bicaralah hanya yang benar. Bertindaklah hanya dalam cinta.

Hiduplah dalam Hukum Cinta sekarang dan selamanya. Berikan segalanya, jangan menghendaki apa pun.

Hindari yang bersifat duniawi.

Jangan menerima yang tidak dapat diterima.

Ajarilah semuanya yang berupaya belajar tentang Aku.

Jadikan setiap saat dalam hidupmu itu curahan kasih sayang.

Gunakan setiap saat untuk memikirkan pemikiran yang tertinggi, melakukan tindakan yang tertinggi. Di dalamnya, muliakan Dirimu Yang Kudus, dan dengan demikian, memuliakan Aku juga.

Bawalah damai ke Bumi, dengan membawa damai kepada semua yang kehidupannya Engkau sentuh.

Jadilah damai.

Dalam setiap saat, rasakan dan ungkapkan Hubungan Ilahimu dengan Semuanya, dan dengan setiap orang, tempat, dan benda.

Rangkullah setiap situasi, akui setiap kesalahan, bagikan setiap kegembiraan, renungkan setiap misteri, rasakan penderitaan orang lain, maafkan setiap pelanggaran (termasuk pelanggaranmu sendiri), pulihkan setiap hati, hormati kebenaran setiap orang, hormati Tuhan setiap orang, lindungi hak-hak setiap orang, lestarikan martabat setiap orang, promosikan kepentingan setiap orang, berikan kebutuhan setiap orang, harapkan kesucian setiap orang, berikan hadiah terbesar kepada setiap orang, berikan berkat kepada setiap orang, dan nyatakan jaminan masa depan bagi setiap orang ada dalam cinta Tuhan yang meyakinkan.

Jadilah teladan yang hidup dari Kebenaran Tertinggi yang bersemayam di dalam sanubarimu.

Berbicaralah dengan rendah hati tentang dirimu sendiri, jangan sampai kesalahan seseorang itu menjadi Kebenaran Tertinggi bagi bualanmu.

Berbicaralah dengan pelan, jangan sampai seseorang berpikir kamu semata ingin diperhatikan.

Berbicaralah dengan lembut, hingga semua orang akan mengenal Cinta.

Berbicaralah dengan terbuka, jangan sampai ada yang mengira ada yang kamu rahasiakan.

Berbicaralah dengan terus terang, supaya kamu tidak disalahpahami.

Berbicaralah dengan hormat, supaya tak ada yang merasa tidak dihormati.

Berbicaralah dengan kasih sayang, supaya setiap suku kata dapat menyembuhkan.

Berbicaralah tentangKu, dalam setiap ucapanmu.

Jadikan hidupmu karunia. Ingatlah selalu, kamulah karunia itu!

Jadilah karunia bagi setiap orang yang memasuki kehidupanmu, dan bagi setiap orang yang kehidupannya kamu masuki. Berhati-hatilah agar jangan sampai memasuki kehidupan orang lain apabila kamu tidak dapat menjadi karunia.

(Kamu selalu dapat menjadi karunia, karena kamu senantiasa adalah karunia – namun kadang kamu jangan membiarkan dirimu sendiri mengetahui itu)

Ketika ada yang memasuki kehidupanmu tanpa terduga, carilah karunia yang akan diterima orang yang telah datang kepadamu itu.

Luar biasa benar cara menjabarkannya.

Sebab apa lagi kamu pikir seseorang itu sampai datang kepadamu?

Kukatakan kepadamu: Setiap orang yang pernah datang kepadamu, telah datang untuk menerima karunia darimu. Dalam melakukan itu, ia memberikan karunia itu kepadamu – karunia dari pengalamanmu dan penggenapanmu tentang Siapa Dirimu.

Ketika kamu melihat kebenaran yang sederhana ini, saat kamu memahaminya, kamu akan menyaksikan karunia yang terbesar dari semuanya:

TIDAK ADA YANG KUKIRIMKAN KEPADAMU KECUALI PARA MALAIKAT

taken from : Conversation With God-13

Related Article: Freedom Forever

October 17, 2009

Prawacana Arun Gandhi dalam Buku “God Without Religion”

Pertanyaan “Apakah Tuhan itu?” telah memusingkan umat manusia selama berabad-abad dan akan terus menantang pemahaman logis selama kita hidup dengan konsep bahwa di atas sana ada suatu surga tempat Tuhan duduk menghakimi umat manusia dan menghukum orang yang telah bertindak tidak benar. Pemikir-pemikir terkemuka sepanjang sejarah telah berusaha menemukan jawaban logis terhadap pertanyaan yang sulit dan tidak menyenangkan ini, dengan hasil hanya sedikit. Pada sisi lain, Yang Mulia Gautama, sang Buddha, melakukan tapasya (kata Sanskerta untuk asketisisme) di bawah sebatang pohon bodhi dan, seperti beberapa orang lainnya, menemukan bahwa Tuhan ada di dalam hati setiap insan dalam bentuk cinta kasih, bela rasa, pengertian, dan sifat-sifat positif lainnya yang mampu dimiliki manusia tetapi sering kali ditekan olehnya. Tampaknya, daripada kita mencoba menegaskan logika yang ketat atau menempatkan suatu citra yang solid pada konsep kita tentang Tuhan, kita harus mengikuti teladan mereka dan mengerahkan energy yang lebih besar untuk secara intuitif memahami makna Tuhan.

Buku yang ditulis Sankara Saranam ini, God Without Religion: Mempertanyakan Kebenaran yang Telah Diterima Selama Berabad-Abad, menolong kita melakukan usaha intuitif itu. Buku ini menawarkan usaha yang menyegarkan untuk memberi umat manusia suatu peta perjalanan spiritual yang dimodernisasi untuk digunakan dalam pencarian abadi kita memahami Tuhan.

Karena Identitas Tuhan tidak dapat dipahami (mungkin rahasia yang paling baik terjaga dalam dunia ini) dan filsafat yang mengitari kuasa ini sangat tidak dapat dimengerti, pemimpin keagamaan dari berbagai kepercayaan mendefinisikan Tuhan dalam cara-cara yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang yang mereka dapat jawab. Penjelasan termudah dan paling diterima adalah dengan melihat Tuhan dalam rupa orang-orang yang dipandang sebagai utusan Tuhan – di antara orang Yahudi, Musa dan Nabi-nabi Ibrani; di antara orang Kristen, Yesus; di antara Muslim, Muhammad (more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.