escape

May 12, 2014

Sekolah Kedamaian – posted by Gede Prama 02 May 2014

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dewa landung @ 3:28 AM

Bila jiwanya tidak dewasa, bahkan seribu kali pun berganti pasangan, maka seseorang akan selalu mengundang datangnya pasangan yang tidak dewasa (hukum daya tarik). Disamping itu, di mata jiwa yang tidak dewasa maka orang lain pun terlihat tidak dewasa.

Awalnya, masyarakat diciptakan untuk membuat kehidupan lebih tertata. Tapi sulit diingkari belakangan masyarakat menimbulkan banyak lubang-lubang jiwa. Angka bunuh diri, penghuni rumah sakit jiwa, depresi, korupsi, konflik yang semuanya meningkat memberi bukti akan hal ini. Sepertinya terjadi ketidakseimbangan tatanan di masyarakat. Sehingga menimbulkan pertanyaan, di mana jiwa bisa menutupi lubangnya?

Keluarga Di Dalam

Di antara demikian banyak Guru simbolik yang tersedia di alam, kelahiran adalah salah satu simbol penting. Dan kita semua terlahir di keluarga. Sehingga di tengah kegalauan masyarakat seperti ini, tiap kali ada murid meditasi yang berkonsultasi untuk bercerai, selalu tidak diizinkan. Bukan karena mau memberi judul negatif terhadap perceraian, sekali lagi bukan. Melainkan karena di balik semua perceraian adalah jiwa yang tidak dewasa.

Bila jiwanya tidak dewasa, bahkan seribu kali pun berganti pasangan, maka seseorang akan selalu mengundang datangnya pasangan yang tidak dewasa (hukum daya tarik). Disamping itu, di mata jiwa yang tidak dewasa maka orang lain pun terlihat tidak dewasa. Untuk itu, dibandingkan bercerai yang bisa menimbulkan luka jiwa ke banyak orang, selalu disarankan untuk membuat jiwa semakin dewasa.

Dan kesedihan, kepedihan, penderitaan adalah Guru terbaik yang tersedia di alam untuk membuat jiwa jadi lebih dewasa. Syaratnya sederhana, jangan lari dari kesedihan, tunduk sujud di depan kesedihan seperti sujud bakti kepada Guru. Makanya sering diungkapkan, kesedihan adalah malaikat di dalam yang membimbing seseorang menjumpai lapisan-lapisan diri yang lebih dalam. Begitu penggalian seseorang dalam, ia akan berjumpa keluarga di dalam sebagai syarat membangun keluarga di luar.

Rumah Tua Jiwa

Awalnya emosi negatif seperti marah dan tersinggung mirip dengan musuh berbahaya. Awalnya pikiran yang kacau dan bergelombang serupa pencuri yang mencuri kekayaan kedamaian di dalam. Tapi begitu disentuh meditasi mendalam melalui kegiatan menyaksikan, emosi negatif dan pikiran bergelombang hanya bel-bel yang mengingatkan seseorang untuk kembali sadar.

Dengan modal kesadaran seperti ini, kemudian lebih mudah menata keluarga sebagai rumah tuanya jiwa. Anak-anak yang nakal, pasangan hidup yang memasuki krisis setengah baya, orang tua yang sakit-sakitan, pembantu yang sering pergi, semuanya menjadi kekuatan yang memperkuat (bukannnya memperlemah) kesadaran.

Diterangi cahaya kesadaran seperti ini, baru kemudian keluarga bisa dikembalikan ke fungsi awalnya sebagai rumah tua jiwa. Ia seperti pelabuhan bagi kapal laut. Di mana semua lubang yang membuat kapal bocor ditambal, semua cat yang mengkarat dicat ulang. Keluarga yang sehat juga serupa, ia bukan seperti turnamen sepakbola yang ada menang-kalahnya. Ia adalah sebuah rumah di mana kita semua belajar saling memaafkan dan saling menyayangi. Ringkasnya, semacam sekolah kedamaian.

Taman Keluarga

Serupa taman yang indah dan cantik, keluarga juga jadi indah dan cantik kalau kita menggunakannya sebagai tempat untuk saling menyempurnakan. Bukan sebagai tempat untuk saling menyalahkan. Sebagaimana taman, di mana ada rumput di sana ada rumput liar. Di mana ada kelebihan di sana ada kekurangan. Indahnya, tatkala sifat alami kehidupan seperti ini diterima dan di dekap, ada kecantikan dari dalam yang tumbuh serta mekar. Cirinya, rumput liar tetap dicabut tapi tanpa keluhan apa-apa.

Bedanya dengan taman di luar, di taman keluarga siapa yang menanam bibit-bibit cinta maka dialah yang jiwanya mekar. Bagi setiap jiwa yang mekar, ia akan mengerti, ternyata tindakan-tindakan baik setiap hari adalah cara terbaik untuk membangunkan kecantikan yang tersedia di dalam.

Dengan cahaya kecantikan dari dalam ini, kemudian keluarga bisa ditata menjadi tempat di mana lubang-lubang jiwa ditambal, kekurangan bisa disempurnakan. Sebagai akibatnya, keluarga bisa berperan besar dalam membuat tatanan masyarakat menjadi lebih baik. Meminjam pengalaman spiritual sejumlah sahabat: “bila di dalam seseorang tertata, maka dunia juga dalam tatanan”

========

Sumber: Gede Prama 02 May 2014

Baca ini berkali-kali jika anda sudah menikah!

Advertisements

April 29, 2014

Belahan Jiwa – …

Filed under: Uncategorized — Tags: — dewa landung @ 2:32 AM

Belahan Jiwa – Gede Prama (2)

Landung, sy ikut sedih membaca penderitaan Anda yg demikian dlm. Masih mudah sdh digoda penderitaan demikian dlm. Cuman jangan takut, Anda dekat dg sy adl tanda kuat kalau Anda cocok dg ajaran2 yg mengalir melalui sy. Di jln ini Landung, semua Guru (termasuk sy pribadi) dibersihkan halangan2 spiritualnya melalui penderitaan mendalam. Bentuk penderitaannya bisa macam2, tp tujuan sama. Membuka selapis demi selapis bungkus2 palsu yang membungkus jiwa. Pd saatnya kalau bungkus2 palsu ini (tubuh, ego, keakuan, kepintaran, kelebihan dll) dibuka, Anda akan berterimakasih scr mendalam pd peneritaan. Syaratnya, jangan lari, apa lagi lari ke tempat berbahaya spt narkoba dan perceraian. Belajar sujud, tulus, ikhlas di depan penderitaan. Setulus dan seikhlas hati Anda di depan Guru suci yg Anda hormati. :)

April 26, 2014

Hindari 10 Larangan

Filed under: BALI — Tags: — dewa landung @ 12:54 PM

image

April 16, 2014

Belahan Jiwa – Comment Gede Prama

Filed under: Uncategorized — Tags: — dewa landung @ 4:34 AM

Landung, ikut berempati dg penderitaan mendalam Anda. Dan begitulah jalan spiritual. Ia kerap hrs melewati cobaan2 yg tdk kebayang beratnya. Sarannya, belajar sujud hormat di depan penderitaan. Krn penderitaan adl bel suci yg memanggil jiwa agar pulang. 🙂

February 28, 2014

Belahan Jiwa – Gede Prama

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dewa landung @ 7:54 AM

Ia bisa hadir dalam bentuk pelayanan, ia juga bisa hadir dalam bentuk luka jiwa yang mendalam.

Banyak pria yang mengungkapkan cintanya pada istri dengan memberi permata. Ia wakil dari cinta yang abadi. Tapi ada permata yang lebih menyelamatkan, ia adalah permata pengertian. Pengertian mendalam tentang cinta. Ia yang sudah mengerti cinta melalui pelaksanaan mendalam selama bertahun-tahun mengerti, cinta tidak pernah di luar. Cinta sesungguhnya ada di dalam. Bila cinta di dalam sudah tumbuh dan mekar, secara alamiah akan membuat seseorang dicintai. Ia sealami air yang basah, gula yang manis.

 

Dalam cahaya pengertian seperti ini, belahan jiwa bukanlah seseorang yang demikian penurutnya hingga mengikuti semua keinginan Anda. Belahan jiwa adalah seseorang yang membimbing Anda menemukan cinta sejati di dalam. Ia bisa hadir dalam bentuk pelayanan, ia juga bisa hadir dalam bentuk luka jiwa yang mendalam. Anda dilukai, dikhianati, dicaci oleh belahan jiwa. Tapi bukan sembarang luka, melainkan luka yang membalikkan arah perjalanan. Dari mencari cinta di luar menuju menemukan permata cinta di dalam.

 

Oleh permata cinta di dalam ini, kemudian seseorang dibimbing semakin dalam dan semakin dalam lagi. Puncaknya ketemu tatkala seseorang bisa mengerti melalui pengalaman, jiwa tidak pernah terbelah. Sejak awal jiwa itu utuh, komplit, sempurna. Sebagai hasilnya, seseorang tidak saja berhenti mengejar cinta di luar, ia juga bercahaya menerangi kegelapan, termasuk menerangi ia yang pernah melukai.Seorang sahabat di Barat yang sudah sampai di sini menulis: “I’ve seen your ugly parts and I stay to illuminate your darkness“. Sisi gelap pasangannya memang sudah terlihat, tapi ia bertahan dalam pernikahan untuk menerangi kegelapan.

-Gede Prama-

June 3, 2011

Kutipan: “Burung Bersayap Sebelah”

Filed under: Anyone Conversations, Words That Inspiring Me... — Tags: — dewa landung @ 7:08 AM

Perhatikan atasan, jarang ada yang tidak pernah marah, terutama karena kemarahan kerap membuat organisasi teratur. Disamping itu, seperempat gaji atasan sesungguhnya biaya marah-marah. Semacam ongkos ke dokter bila nanti stroke.

Kendati demikian, kemarahan bisa dikelola, terutama bila manusia menemukan kebahagiaan dalam tidak menyakiti sekaligus banyak menyayangi. Perhatikan argumen seorang sahabat: when anger disappear enemies disappear. Ketika kemarahan menghilang, musuh juga menghilang.

Ada yang mencoba menghilangkan kemarahan dengan menendangnya, namun di jalan ini kemarahan tidak ditendang. Sejujurnya kemarahan adalah suara dari dalam. Asal diawasi, ia juga membimbing.

Perhatikan orang atau situasi yang menimbulkan kemarahan (more…)

December 3, 2010

Comment Mr. Gede 30 Nov 2010

Filed under: CONVERSATIONS, Self Conversations — Tags: — dewa landung @ 1:56 AM

Bagus sekali Dewa Landung bila Anda mendapat bagian Bhagavad Gita yang ini…”Yours and mine, Big & small…erase these ideas from your mind. Then everything is yours and you belong to everyone”….

ada guru berpesan, tatkala Anda melihat buku suci, sesungguhnya engkau sedang melihat dirimu sendiri. Dan Anda bila ketemu bagian buku suci yang ini, sebuah feed back Anda berbakat, Anda diundang utk masuk lebih dalam melalui pelaksanaan keseharian. begitu menyangkut keseharian, hanya kasih sayang yg menyembuhkan sekaligus menghubungkan. Tks

October 29, 2010

Comment Mr. Gede

Filed under: Self Conversations, Words That Inspiring Me... — Tags: — dewa landung @ 4:13 AM

Anda “Benar” Pak Dewa!. setidaknya benar di hati saya yg sederhana ini. Namun tolong dicatat, dalam pikiran manusia kebenaran amat problematik. menurut siapa? menggunakan ukuran yg mana? dibandingkan dg siapa? sehingga mengutip Bhagavad Gita: “lakukanlah apa yang Anda pikir baik dan benar untuk dilakukan (sesuai dg norma, etika, panggilan kelahiran – gp). selebihnya lupakan hasilnya (termasuk lupakan komentar orang lain – gp)”.

-Gede Prama-

June 29, 2010

Kiri – Kanan

Filed under: BALI, Words That Inspiring Me... — Tags: , — dewa landung @ 2:27 AM

…… namun menghakimi orang kiri dengan cacian berlebihan, bukanlah ciri-ciri orang kanan yang sudah berjumpa kebijaksanaan.

Di desa Tajun Bali Utara diwariskan, setiap anak laki-laki  tertua   dipanggil   kolok  (bisu).   Perhatikan kata kolok baik-baik, dari kanan ke kiri terbaca kolok, dari kiri ke kanan terbaca kolok. Seperti mau berpesan, kiri maupun kanan akan sampai di tempat yang sama. Mungkin itu sebabnya, di akhir hidupnya Ida Danghyang Dwijendra menulis karya indah berjudul Dharma Shunya. Tidak hanya dalam keriuhan kata-kata ada Dharma. Di kedalaman keheningan juga ada Dharma.

-Gde Prama-

Blog at WordPress.com.